Ingin mengetahui peradaban kuno? Cobalah datang ke Desa Banjarejo, Gorbogan, Jawa Tengah. Dari jalan utama Purwodadi- Sulursari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, desa ini berjarak 20 km.
Ada yang menarik di desa yang punya luas 1.720 hektar ini. Sejak 2006, di desa ini banyak ditemukan benda-benda bernilai sejarah. Ada lesung, guci, uang koin, perhiasan, dan koleksi benda bersejarah lainnya.
Rata-rata benda-benda itu ditemukan di Dusun Medang. Lokasinya tersebar. Ada yang di persawahan, pekarangan rumah, sungai, bahkan ada juga yang di dalam rumah. Pada September 2006, seorang warga menemukan uang koin 140 kg di dalam guci.
Pada 2010, sejumlah petani menemukan beberapa kepingan emas di lahan sawah yang digarapnya. Sejak itu, sawah-sawah itu tak lagi ditanami karena sang empunya lebih banyak memburu emang atau perhiasan berharga lainnya. Ada 20 hektar lahan yang dijadikan sasaran perburuan.
Biasanya mereka memburu benda-benda itu kala musim penghujan. Ketika hujan, lahan berlumpur. Karena berlumpur warga akan lebih mudah mencarinya.
Karena minimnya pengetahuan warga, sebelum 2016, temuan-temuan benda-benda kuno itu banyak yang dijual ke kolektor. Benda-benda kuno itu kadang hanya dihargai Rp 4.000.000.
Mengutip situs grobogan.go.id, pada 2015, sejumlah petani di Dusun Nganggil yang tengah membuat sumur gali menemukan pondasi yang terbuat dari tumpukan batu bata. Panjang pondasi yang sudah sempat digali dan terlihat ini mencapai 40 meter.
Batu bata yang ditemukan memiliki panjang 30 cm, lebarnya 20 cm, dan ketebalannya 8 cm. Warnanya lebih merah.
Tinggi bangunan mirip pondasi itu sekitar 40 cm. Lebarnya ada 30 cm. Diperkirakan, panjang fondasi bangunan itu mencapai satu kilometer lebih.
Mitologi yang melekat kuat pada warga setempat meyakini bahwa dahulu wilayah Desa Banjarejo merupakan lokasi peradaban Kerajaan Medang Kamulan.
"Di Desa Banjarejo menyimpan nilai historis tentang peradaban kerajaan Medang Kamulan. Cerita turun-temurun dari nenek moyang mengisahkan jika Desa Banjarejo merupakan wilayah kekuasaan Prabu Dewata Cengkar dan Ajisaka," kata tokoh masyarakat Banjarejo, Sukimin (70 tahun) seperti dinukil Kompas.com.
Menurut keterangan peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto bangunan itu termasuk benda bersejarah. Struktur bata itu merupakan produk peradaban kuno yang sangat maju.
Diperkirakan dulunya area persawahan di lokasi temuan bangunan berkonstruksi batu itu merupakan bekas permukiman kuno yang kompleks, padat, dan maju.
Kondisi ini, kata Sugeng, mengingatkan pada masa kejayaan masa klasik (Hindu-Budha) atau masa awal perkembangan peradaban Islam, khususnya di Jawa.
Masa Hindu-Budha berlangsung sekitar 12 abad (abad V-XV) yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu periode pertumbuhan, perkembangan, dan keruntuhan. Masa selanjutnya, Nusantara didominasi oleh peradaban Islam, mulai sekitar abad XVI.
Penemuan Fosil
Pada 7 September 2015 warga juga menemukan fosil tengkorak kerbau purba (Bubalus Paleokarabau) yang ditemukan di Sungai Lusi. Kerbau purba ini memiliki ciri-ciri sepasang tanduk yang permanen dan berongga di tengah. Bentuknya memanjang ke samping dengan rentang 1,5 meteran.
Temuan itu disusul dengan temuan fosil berupa gading stegodon miensis sepanjang 3 meteran pada 24 Maret 2016 lalu.
Selain itu, ada juga fosil kuda sungai (Hippopotamus sp), buaya muara (Crocodylas sp), banteng (Bibos Paleosandaicus), gajah (Elephant sp), rusa purba (Cervus sp), babi (Sus sp), antelop (Dubbisia santeng), badak (Rhinoceros sp) dan sejumlah biota laut. "Lebih kurang ada 21 spesies. Sekitar 1.000 an fragmen," kata Taufik.
Menurut perkiraan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP), sekitar 2 juta tahun lalu Desa Banjarejo dan sekitarnya merupakan lautan dangkal.
Kemudian sekitar 1,6 juta tahun lalu berubah menjadi laguna. Ada pesisir pantai, sungai muara, rawa, padang pasir dan hutan. Dari situlah kemudian muncul hewan-hewan kecil.
"Pada 1 juta tahun lalu, Banjarejo dan sekitarnya berubah menjadi daratan hingga muncul hewan-hewan besar seperti gajah stegodon dan lain-lain," ujar Taufik.
Menyadari banyaknya benda-benda benda-benda kuno itu ditemukan dan punya nilai sejarah, pada September 2016, Kepala Desa Banjarejo Achmad Taufik meminta warga agar menyerahkan temuannya ke desa. Warga setuju.
Melalui komunitas fosil yang ada di desa itu, akhirnya jika ada temuan warga langsung menyerahkannya untuk disimpan di Rumah Fosil.
Jika Anda bertandang ke desa gudang peraban kunu, Anda bisa melihat semua benda-benda itu di Rumah Fosil.