Pembentukan karakter bangsa adalah tanggungjawab para pemimpin yang sudah dilakukan Bung Karno selaku founding father sejak Indonesia merdeka. Ende adalah salah satu daeran yang pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno.

Di tempat ini Bung Karno membuktikan bahwa setiap orang tidak boleh berhitung jika ingin mengabdi pada bangsa dan negaranya. Sekalipun harus diasingkan bahkan mengorbankan nyawa, seorang pemimpin harus siap dan rela. Kini rumah pengasingan Bung Karno menjadi situs penting di kota Ende yang kerap dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia.

"Banyak cerita tentang kebesaran dan kehebatan Bung Karno yang menjadi kebanggaan warga masyarakat ketika menceritakannya pada para pengunjung situs rumah pengasingan Bung Karno," jelas Fritz, seorang pegawai negeri sipil yang bertugas di Badan Irigasi Kupang dalam perjalanan dari Ende menuju bendungan Sutami di kota Mbai yang berjarak dua jam perjalanan dari kota Ende.

Seperti cerita lain di berbagai tempat dimana Bung Karno pernah tinggal atau diasingkan, masyarakat percaya bahwa founding father kita adalah orang besar yang memiliki "kesaktian".

Di rumah pengasingan Bung Karno, sejumlah benda-benda memorabilia, mulai dari alat setrika yang menggunakan arang sampai tongkat yang digunakan Bung Karno dipamerkan dalam kotak-kotak kaca. Kamar tidur bung Karno dan Bu Inggit juga dibiarkan seperti aslinya saat dipakai Bung Karno. Selain situs rumah pengasingan, kawasan Flores memiliki beberapa destinasi wisata yang luar biasa.

"Yang paling utama dan wajib adalah Danau Kelimutu untuk kawasan Ende, sedangkan untuk Flores secara keseluruhan yang kini paling harus dikunjungi adalah Pulau Komodo," tutur Lepin, seorang wargakota Ende. "Belum ke Flores namanya kalau belum mengunjungi dua tempat itu," tegas Fritz menambahkan.

Aura Soekarno
Soekarno telah membuka cakrawala pemikiran baru di dunia melalui pidato-pidato pentingnya yang adalah buah dari dunia literasi yang membentuk pemikirannya.

Pidato Soekarno yang berjudul Unity in Diversity Asia Africa pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 18-24 April 1955 di Bandung menegaskan komitmen Indonesia dalam upaya melawan kolonialisme di Asia Afrika. Inilah semangat bhineka tunggal ika yang diangkatnya menjadi wacana dunia saat itu.

Selain pidato pada Konferensi Asia Afrika, pidato-pidato lain Soekarno juga dinilai telah memberikan perubahan signifikan dalam percaturan politik dunia.

Pidato berjudul To Build The World a New yang disampaikan pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1960 juga merupakan gagasan Soekarno yang menyentak dunia. Aura dan semangat Bung Karno itulah yang masih terasa kental dan bisa kita rasakan di kawasan Flores.

Aura itu tetap terasa saat memasuki wilayah Mbai. Juga terpancar di kantor Bupati Mbai yang menyambut penuh kehangatan kedatangan Katadesa. Di kantor Kabupaten Mbai ia mengalungkan selendang tenun semacam ulos khas Flores.

"Kami sangat senang mendapat kunjungan langsung dari Jakarta untuk menulis tentang pembangunan program prioritas nasional di kawasan kami," ujar Bupati Ellias Djo di ruang kerjanya.

Terkait proses pembangunan di wilayah Mbai, pendekatan adat untuk melakukan dialog dan musyawarah juga dilakukan untuk memperlancar proses pembangunan di wilayah tempat Bung Karno pernah diasingkan itu.

Kepentingan bersama seluruh warga masyarakat selalu dipertimbangkan sebagai stake holder utama dalam kebijakan setiap program pembangunan, baik dari pusat maupun program pembangunan daerah.

Masyarakat pun percaya hal tersebut, meski dalam prosesnya tetap perlu edukasi dan komunikasi yang baik, terbuka dan dari hati ke hati agar semua tahapan pembangunan berjalan lancar.

Daerah pengasingan Bung Karno itu siap melakukan dan menjalankan tahap-tahap rencana pembangunan dengan mempertimbangkan dan menampung berbagai masukan untuk kemudian dirumuskan bersama guna menemukan solusi yang paling baik bagi seluruh lapisan masyarakat. Itulah proses pembangunan yang dialogis dan partisipatif antara pemerintah daerah dan warga masyarakat.

Dengan kebijakan dan pelaksanaan sikap seperti itu, maka tidak sia-sialah jika dahulu Bung Karno diasingkan di Ende karena masyarakat dan pemimpinnya saat ini bisa meneladani kepemimpinan founding father.

Soekarno selalu berjuang mendorong agar terjadi sinergi berbagai kelompok masyarakat untuk bersama-sama membangun dan memajukan bangsa. Soekarno paham betul bahwa dengan dukungan kelompok masyarakat sipil dan kaum cerdik pandai, pembangunan bisa berjalan cepat dan lebih baik.

Penulis adalah anggota Dewan Redaksi Katadesa.id