Aisandami. Letaknya 50 km dari Wasior, Ibu Kota Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Aisandami merupakan salah satu kampung yang ada di pesisir teluk Wondama, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Kampung ini menyimpan keunikan alam dan budaya asli yang masih dipertahankan masyarakat setempat.

Kampung ini punya selat Imamurem yang penuh dengan karang ikan dan penyu. Di sini pernah juga muncul duyung. Mereka juga punya hutan yang ada burung cendrawasihnya dan mangrove.

Aisandami dikenal sebagai kampung yang tersembunyi dibalik teluk Duairi. Kampung ini juga dijuluki sebagai Kampung Wisata pertama di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Potensi wisatanya selain atraksi burung Cendrawasih adalah keindahan alam dan hasil kerajinan tangan perempuan Aisandami. Hasil kerajinan tersebut bisa dijadikan oleh-oleh wisatawan.

Masuknya pariwisata sebagai salah satu penopang ekonomi dan kehidupan di Aisandami, demikian Kompas.com menulis, juga membuat masyarakat paham akan kelestarian atau keberlanjutan alam lingkungan.

"Tadinya itu mereka suka berburu menembak Cendrawasih, sekarang sudah tidak ada itu. Mereka kan sudah jadi pemandu, jadi mereka sudah dapat ekonomi juga dari situ, tidak menembak lagi," Melania Hegemur, anggota kelompok ekowisata Wadawun Baberin Aisandami, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.

Ingin berkunjung? Tak usah khawatir. Ada paket wisata yang disiapkan untuk melihat keindahan wilayah ini.

Mengutip antaranews.com, tiga paket wisata yang ditawarkan masyarakat tersebut, pertama, paket wisata mengenal kehidupan kampung Aisandami dengan durasi waktu 4 jam serta harga Rp 450 ribu/orang.

Para wisatawan akan diajak berkeliling menyaksikan keseharian masyarakat dan mengunjungi beberapa tempat penting seperti rumah ibadah.

Selanjutnya menyaksikan atraksi menokok sagu secara tradisional dilanjutkan dengan belajar membuat papeda dan sagu dari buah hitam. Buah hitam merupakan tanaman khas Teluk Wondama. Berikutnya adalah trekking ke air terjun Mambi.

Bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi memancing dengan perahu tradisional, perjalanan dalam paket ini akan diakhiri dengan canoeing atau mendayung perahu tradisional untuk memancing di perairan teduh yang berada tepat di depan kampung.

“Untuk menghargai setiap tamu yang datang, kami akan menyambut mereka dengan pengalungan ‘sas’, “ kata Tonci Somisa, Manajer Ekowisata ‘Wadowun Beberin’ Kampung Aisandami.

Sas merupakan kalung yang dibuat dari kayu sebagai simbol ucapan selamat datang bagi para tamu.

Paket wisata kedua, mengenal keindahan alam Kampung Aisandami dengan durasi 6 jam serta harga Rp 650ribu/orang. Paket ini diawali dengan melakukan tracking atau mendaki ke Gunung Papisyowi. Di lokasi ini wisatawan akan bisa melihat secara langsung burung Cenderawasih liar yang sedang bermain di atas pohon.

14 10 2020 Aisandami2

Setelanjutnya canoeing di sungai Waronggon, tracking mangrove dan bameti mencari kepiting bersama kelompok perempuan Aisandami. Untuk menutup perjalanan, wisatawan diajak untuk melakukan snorkeling untuk melihat keindahan terumbu karang dengan aneka ikan warna warni di selat Numamuram.

Jika beruntung anda bisa menjumpai dugong yakni hewan laut sejenis ikan duyung yang sering muncul di kawasan tersebut.

“Bapak ibu tidak usah bawa makanan. Kami sudah siapkan. Jadi bapak ibu ke sana saja, kami siap layani,“ ujar Tonci.

Bagi yang suka budaya, paket ketiga ini khusus ditampilkan atraksi budaya dan tradisi lokal masyarakat setempat.

Paket ketiga berdurasi 4 jam dan ditawarkan seharga Rp 600 ribu/orang. Wisatawan yang datang akan disambut dengan tarian penyambutan serta dansa adat.

Setelah sarapan, wisatawan diajak menuju sekolah dasar setempat untuk menyaksikan tarian adat yang dibawakan para siswa setempat. Selanjutnya wisatawan menikmati atraksi permainan tradisional Aikikis.