Kerajinan kok di desa Sumengko, Nganjuk mampu menembus pasar dunia.
Duduk bersimpuh, beberapa perempuan itu tampak sibuk memegang bulu-bulu entok. Ada yang mencuci, menjemur. Sebagian yang lain terlihat menggunting bulu-bulu entok yang telah kering itu.

Di depannya, beberapa pekerja laki-laki terlihat mengoperasikan mesin sambil melubangi gabus.

Begitulah aktivitas pembuatan shuttlecock atau kok yang dilakukan mayoritas warga Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur. Aktivitas itu mereka lakukan secara ajeg, setiap hari.

Desa Sumengko memang dikenal sebagai salah satu desa perajin kok di Jawa Timur. Kerajinan shuttlecock di Sumengko berawal pada 1970an. Usaha ini dirintis Munaryo. Awalnya Munaryo menjadi pengepul bulu. Rasa penasaran ingin bisa membuat kok sendiri, membuat Munaryo menimba ilmu pembuatan shuttlecock di Solo.

Setelah merasa mampu, Munaryo pulang kampung dan menekuni kerajinan ini. Ia pun kemudian mengajak warga desa yang mayoritas sebagai petani. Hingga pada sekitar 1980an, perajin kok di desa itu mulai tumbuh.

Awalnya kerajinan buatan desa itu hanya untuk memenuhi kebutuhan di daerah Nganjuk. Empat tahun kemudian tepatnya 1984, para perajin di desa itu diminta untuk memasok produksi kok tanpa merek ke sebuah pabrik di Malang. Pengiriman ke Malang itu berlangsung hingga beberapa tahun.

Sujadi, salah satu perajin mengatakan, awalnya kerajinan produksi desa itu dijual di daerah Nganjuk. Selain itu, mereka kerap diminta memasok ke pabrik yang ada di Malang.

Dalam perkembangannya, Sujadi mulai berpikir untuk melebeli kok sendiri. Lebel itu ia namai Mitra Cock. Sujadi kemudian mengajak warga untuk bergabung. Gayung bersambut.

Kok produksinya kemudian dipasok ke berbagai tanah air. Menurut Sujadi, dalam sebulan perusahaannya bisa memproduksi tak kurang dari 3.000 slop atau 30 ribu biji kok. Nilainya kurang lebih sekitar Rp 100 jutaan.

Dalam perkembangannya, mereka tak hanya menjadi salah satu pemasok kebutuhan dalam negeri tapi juga luar negeri. Produksi mereka mampu menembus pasar Malaysia, Singapur, China, dan Jepang.

Sujadi bercerita, modal yang dipakai untuk membuat 1.000 lusin shuttlecock mencapai Rp 40 juta. Harga jualnya mencapai Rp 45 juta. Dari nilai itu, keuntungan bersih yang didapat sekitar Rp 3.000.000. Lumayan.

Tak hanya Sujadi, saat ini desa itu ada sekitar 70 pengusaha pembuatan kok. (FJR)