Jerih payah Agustinus Adil (49) membuahkan hasil. Warga Kampung Lendo, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, ini boleh dikata sebagai salah satu petani perintis yang sukses membudidayakan porang. Porang adalah tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus Muelleri.

Berkat kegigihannya menanam porang di desanya itu membuat Agus --begitu Agustinus Adil biasa dipanggil-- bisa berangkat ke Jepang. Ia berada di negeri Sakura itu selama sembilan bulan, mulai Maret hingga Desember 2020. Di sana ia magang di sejumlah perusahaan pengolah porang.

Ya porang memang sedang naik daun, terutama di Jepang. Di Jepang, Porang diolah menjadi bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, pembuatan lem, dan jelly.

Perkenalan Agus dengan porang berawal pada 2010. Saat itu banyak pedagang yang mencari tanaman ini.

Agus bercerita. Bagi masyarakat desanya, porang ini awalnya dianggap sebagai tumbuhan liar. Ia banyak tumbuh di hutan. Banyak masyarakat yang tak meliriknya.

Namun, ketika banyak pedagang mencarinya, Agus mulai coba-coba membudidayakan tanaman ini. Ia mengambil tumbuhan liar itu untuk di tanam di lahan miliknya. Awalnya ia hanya menanam 30 pohon lalu berkembang.

Baca juga: Porang, umbi gatal yang diminati pasar global

Pada tahun 2012, ia bertemu dengan salah seorang pedagang yang mencari umbi porang. Saat itu, harganya memang masih murah. Per kilogram porang saat itu dihargai Rp 500.

Meski dihargai cukup murah tak menyurutkan Agus untuk terus membudidayakan tanaman ini. Ia pun mengajak petani lain untuk mengikuti jejaknya.

Agustinus juga mengajak 118 anak-anak SD untuk belajar menanam porang. Agar anak-anak itu tertarik, ia menyiapkan makanan dan gula-gula untuk mereka. "Saya mengajarkan mereka untuk hidup mandiri. Saya menyarankan mereka untuk mencari umbi porang di tengah hutan untuk dijual,” kata dia seperti dilansir voxntt.com.

Upaya Agus membuahkan hasil. Dari semula hanya 30 pohon, kini ia sudah memili 1,2 juta pohon. Petani lain di desanya juga mulai mengikuti jejaknya.

“Saat ini hampir semua masyarakat di kampung ikut budidaya porang,” ujar dia.

Baca juga: Menikmati keindahan alam Kampung Rangat

Menurut Agus, di desanya, porang berusia 2,5 tahun rata-rata bisa menghasilkan 7 kg. Sedangkan yang berusia 3,5 tahun hasilnya rata-rata 11 kg setiap pohon. Sekarang harga Porang mentah Rp 7.500 per kilogram.

Tak disangka, ketekunan Agus membudidayakan porang ini sampai ke telinga seorang Pastor Paroki Mbata, Romo Bernardus Palus. Romo Bernadus memang dikenal sebagai seorang yang punya perhatian pada dunia pertanian.
Karena itu pada awal 2020, Romo Bernardus mendatangi Agus dan melihat-lihat tanaman itu.

"Saya tak menduga imam tersebut menawari saya untuk magang ke Jepang," kata Agus seperti dilansir jurnalistravel.com.

Mendapat tawaran itu petani yang hanya lulus SD ini kaget. Ia ragu apakah akan menerima tawaran itu atau tidak. Sebab, ia tak bisa Bahasa Inggris.

Namun Romo Bernardus terus mendorong Agus. Romoa Bernardus lalu meminta salah satu kerabat yang bisa berbahasa Inggris untuk mengajari Agus. Berbekal Bahasa Inggris yang minim akhirnya Agus berangkat ke Jepang.

Di Jepang, ia belajar tentang cara budidaya sampai pengolahan umbi porang jadi bahan makan, minuman dan lainnya. Ia juga belajar pembuatan pupuk dan pestisida organik.

Baca juga: Kisah sukses peternak babi dari Desa Cunca Lolos

"Saya mau terapkan semuanya di sini," kata Agus seperti dinukil goodnewsfromindonesia.id.

Berkat Agus, nama Kabupaten Manggarai Timur menjadi terkenal. Tentu saja masyarakat di daerahnya sangat bangga. Kini, petani yang menanam porang sudah tersebar di Kecamatan Kota Komba, Lamba Leda, Elar dan Elar Selatan.

“Kampung Lendo sudah dikenal di Jepang sebagai kampung penghasil tanaman porang di Provinsi Nusa Tenggara Timur, impian saya, NTT dijadikan provinsi tanaman porang,” kata Agus.