Pergilah ke Kopeng. Kopeng adalah sebuah desa yang ada di kaki Gunung Merbabu di Kecamatan Getas, Kabupaten Semarang. Di desa ini tumbuh sebuah kawasan pertanian organik yang dikelola anak-anak muda milenial. Usianya berkisar 19-38 tahun. Mereka punya slogan keren: Pemuda Tampan Masa Kini (PETANI).

Para pemuda ini bernaung di bawah kelompok Tani Citra Muda yang sudah dirintis sejak 2014. Pelopornya Sofyan Adi Cahyono (24 tahun). Sofyan memang hidup dari keluarga petani. Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia pertanian.

Beranjak dewasa ia pun tetap punya cita-cita menjadi petani. Sofyan bercerita, keputusannya untuk mengambil kuliah pertanian saat itu sempat dipertanyakan keluarga dan teman-temannya. "Hidup dari kecil sudah bertani kok masih mau ambil pertanian," kata Sofyan seperti dilansir Metrotv.

Tapi Sofyan tetap pada pendiriannya. Ia tetap mengambil kuliah pertanian di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Keputusan Sofyan itu bukan tanpa alasan. Sofyan merasa prihatin dengan anak-anak muda yang enggan lagi terjun ke dunia pertanian.

6 9 2020 Kopeng3

Padahal dunia pertanian itu jika dikelola dengan baik akan keren. "Jika dikelola dengan baik maka akan menguntungkan dan tak kalah keren dengan pekerjaan yang lain," ujarnya.

Alasan kedua, ia ingin membangun dunia pertanian organik alias tanpa bahan kimia. Karena itu, bersama kelompoknya ia merintis pertanian berbasis organik. "Lebih murah, mudah, dan menyehatkan semua orang," katanya.

Sofyan membuktikan itu. Selepas kuliah, bersama 30 orang temannya ia membentuk kelompok Tani Citra Muda. Kelompok tani ini mengelola 10 hektar lahan yang tersebar di beberapa titik yang ada di Kecamatan Getasan. Di lahannya itu segala macam sayuran dari jenis daun, bunga dan buah.

Di kelompoknya, Sofyan membagi beberapa divisi. Ada divisi peternakan yang bertugas mengolah pupuk kandang menjadi pupuk organik. Ada juga divisi pembibitan; divisi perawatan; divisi pemasaran, dan divisi pelatihan.

Dalam perjalanannya, kelompok tani pimpinan Sofyan ini sudah bermitra dengan 18 kelompok tani dengan jumlah petani 400an orang yang ada di Kecamatan Getasan. Ada 70an macam sayuran dan buah yang mereka tanam saat ini.

Produk-produk mereka diberi label SOM, singkatan dari Sayur Organik Merbabu. Produk mereka dipasarkan melalui instagram. Produk SOM kini sudah menembus pasaran Semarang, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jabodetabek.

Menurut Sofyan, sebelum pandemi mereka bisa meraup omzet Rp 100 juta hingga 150 juta perbulan. Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, permintaan bukan turun tapi malah naik. "Omzet sekitar Rp 300 jutaan," ujarnya.

6 9 2020 Kopeng4

Berkat rintisannya itu, Sofyan dipilih menjadi duta petani milenial. Dan dalam dua tahun ini kelompoknya mendapatkan program desa pertanian organik dari pemerintah.

Kesuksesan Sofyan merintis pertanian organik, membuat ia diminta untuk mewakili petani organik Indonesia di acara Organic Youth Forum yang diselenggarakan oleh IFOAM Asia dan pemerintah Taiwan yang dihadiri perwakilan dari 11 negara di Asia, pada Maret tahun lalu. (FJR)