Sekilas biji itu tampak seperti mainan. Ada yang berwarna hitam pekat, merah, hitam, ada pula yang campuran. Namun, jika diamati dengan jeli, itu biji jagung asli. Sebutan umumnya jagung pelangi. Sebutan pelangi ini mengacu pada banyaknya warna dari jagung itu. Memang jagung ini berbeda dengan jagung manis yang berwarna kuning yang sering kita jumpai.

Jagung pelangi (glass gem corn rainbow) ini dibudidayakan di Canari farm yang terletak di Kampung Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Petani yang berhasil membudidayakan jagung pelangi itu bernama Luki Lukmanul Hakim (46 tahun).

Ditanam di atas lahan tiga hektar, jagung ini sudah dikembangkan sejak 2017. Menurut Luki, pengembangan jagung ini berawal saat dia membaca sebuah media tentang jagung itu. Di media itu disebut, jagung itu masih diimpor.

Luki yang sudah malang melintang di dunia pertanian itu penasaran. Selain itu, Luki yang sudah menekuni dunia pertanian sejak 1997 itu memang hobi mengoleksi plasma nutfah dari berbagai tanaman, salah satunya plasma nutfah dari jagung.

Karena ingin mengoleksi, ia langsung berburu bibit itu di toko online. Berhasil. Ia langsung membeli bibit jagung empat varian: hitam, ungu, putih, dan merah.

Bibit-bibit itu ditanaman dengan model empat lajur. Lajur hitam, ungu, putih, dan merah. Ketika masa panen, dari empat varian ini menghasilkan delapan varian berbeda.

Varian-varian itu kembali dikembangkan dengan model yang sama. Saat dipanen, delapan varian ini menghasilkan 12 varian. Hingga akhirnya kini Luki memiliki 20 varian warna. "Yang baru-baru itu ada warna pink, hijau, biru," katanya.

Banyaknya varian warna ini membuat lokasi penanaman jagung ini viral di media sosial beberapa waktu lalu. Banyak warga berduyun-duyun mendatangi tempat penanaman jagung pelangi itu. Tak hanya warga lokal, beberapa warga dari mancanegara juga mendatangi lokasi penanaman jagung pelangi itu. Jagung pelangi ini seakan menjadi ikon bagi Desa Cirumput.

Popularitas jagung pelangi ini membuat negara Malaysia kepincut. Gara-gara viral di media sosial itu, kata Luki, Malaysia meminta agar ada varian jagung yang disesuaikan dengan bendera negara mereka.

Adanya pesanan dari Malaysia itu membuat Luki terpikir untuk membuat varian merah putih. "Bisa saja nanti kita namai jagung NKRI," ujarnya.

Keinginan untuk mengembangkan varian merah putih itu juga pernah disampaikan ke pejabar pemerintah daerah. Sayangnya, mereka belum merespons.

Namun Luki tak patah arang. Ia tetap mengembangkan tanaman jagung itu. Toh, kata Luki, masyarakat sudah mengenal dan banyak yang mengunjungi kebunnya.

Karena banyak warga yang datang, Luki menjadikan kebunnya sebagai destinasi wisata edukasi.

Di kebunnya ini, ketika musim panen warga bisa melihat atau ikut memanen jagung itu. Jika tidak lagi panen, warga juga bisa melihat jagung yang telah di panen.

Jika ingin menanam, Luki juga menyediakan bibit yang bisa dibeli. Nilainya lumayan dibanding jagung biasa.

Jika harga jual jagung biasa di tingkat petani sekitar Rp 2.000 per kilogram, maka jagung pelangi bisa mencapai Rp 9.000 per kilogram. “Kalau dijual dalam bentuk bibit atau benih. Harganya Rp 500 per butir,” kata Luki.

Selain memiliki nilai ekonomis, kata Luki, jagung pelangi ini juga punya kandungan gizi tinggi dan sangat baik bagi kesehatan dibandingkan jagung biasa.

"Misal jagung yang berwarna hitam ternyata sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes,”kata Luki seperti dilansir Kompas.com.

Di luar negeri, kata Luki, jagung ini selain untuk bahan makanan juga dibuat minuman. Namanya cicha morada. (FJR)