Indonesia dan Filipina memiliki banyak ruang untuk meningkatkan kerjasama dan kemitraan, khususnya dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Karena itu sudah saatnya pelaku bisnis tanah air meraih kesempatan ini.

Wakil Duta Besar Indonesia di Filipina, Widya Rahmanto, menyampaikan hal itu dalam pidato keynote speech saat acara Virtual Trade Show Indonesia-Philippines yang digagas MadeinIndonesia.com bersama Philippine Business Club Indonesia Selasa, 14 April 2021.

"Waktunya sangat tepat bagi pelaku bisnis Indonesia untuk meningkatkan perdagangan, khususnya di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini," Widya mengatakan dalam even yang dihadiri lebih dari 160 peserta dari Indonesia dan Filipina.

Menurut dia, Indonesia dan Filipina adalah mitra strategis yang telah bertahun-tahun melakukan perdagangan bilateral. Indonesia adalah mitra dagang terbesar ke-8 bagi Filipina.

"Untuk tingkat ASEAN, Indonesia adalah mitra dagang ke-3," katanya.

Banyak hal telah dilakukan untuk meningkatkan hubungan dagang Indonesia-Filipina, antara lain dengan mengadakan pembahasan yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Hal yang penting untuk digarisbawahi adalah mengenai kebutuhan untuk meningkatkan konektivitas logistik.

Wakil Dubes juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah dengan swasta dalam upaya membuka akses pasar mancanegara dan meningkatkan ekspor.

"Acara semacam Virtual Trade Show ini adalah salah satu contoh kolaborasi yang apik," kata Widya.

Sekretaris Jenderal Philippine Business Club Indonesia, Mark Castro, menegaskan bahwa Indonesia adalah mitra yang sangat penting bagi Filipina. Oleh karena itu, pengusaha Filipina berinisiatif mendirikan PBCI yang berfungsi semacam kamar dagang untuk menjembatani pengusaha Filipina dan Indonesia.

Castro menyambut baik fakta bahwa banyak produk Indonesia diterima dan diminati konsumen di Filipina. Dia menyebut produk seperti minyak angin Caplang, permen Kopiko, produk kopi dan donat J.Co.

"Kami sering menyelenggarakan dialog dengan perwakilan pemerintah dan swasta dari Indonesia. Kami menyampaikan bahwa tersedia potensi dan kesempatan besar [bagi produk Indonesia] untuk dipasarkan di Filipina," kata Castro, yang sudah merasa betah tinggal di Indonesia.

Prinsipnya, tambah Castro, pasar Filipina siap menyerap dan selalu butuh produk dari Indonesia. Baginya yang penting adalah kelangsungan pasokan produk dari Indonesia.

Sementara itu, Giovanny Tutupoly, Sr. B2B Sales Manager MadeinIndonesia.com, menegaskan terdapat potensi pasar yang sangat besar akan tetapi saat ini masih kurang penetrasi.

Penetrasi pasar Filipina oleh pelaku bisnis Indonesia itu bisa dimulai dengan membuka akses dan saling komunikasi. "Melalui platform MadeinIndonesia.com, upaya membuka akses pasar Filipina bisa dimulai dan dilakukan secara lebih cepat dan tepat," kata Giovanny.

Terkait produk makanan Indonesia, Atase Perdagangan Indonesia di Manila, Lazuardi Nasution, menambahkan bahwa produk makanan dan minuman Indonesia yang akan diekspor ke Filipina tidak diwajibkan untuk mencantumkan label halal.

"Namun, pencantuman label halal akan dengan sendirinya memperluas pasar karena di Filipina juga ada komunitas Muslim," kata Lazuardi.

Seperti diketahui, total perdagangan Indonesia dan Filipina pada 2019 mencapai 7,6 miliar dolar AS dengan surplus bagi Indonesia sebesar 5,9 miliar dolar AS.

Sejauh ini, komoditas ekspor utama Indonesia ke Filipina pada 2019 adalah kendaraan bermotor, batu bara, kopi instan dan minyak kelapa sawit.

Sebaliknya, produk impor Indonesia dari Filipina pada 2019 adalah tembaga dimurnikan sebesar 86 juta dolar AS, polimer dari propilena 65 juta dolar AS, bagian dan aksesoris kendaraan bermotor 63 juta dolar AS, mesin cetak 65 juta dolar AS dan ketel uap air 45 juta dolar AS.

Tentunya, Indonesia punya komoditas dan produk lain yang memiliki potensi besar untuk diekspor ke Filipina.

Menurut data Bank Dunia, produk ekspor Indonesia ke Filipina adalah barang konsumsi yang mencapai 42,5% dari total ekspor, transportasi (28,7%), bahan baku (28,4%), barang setengah jadi (15,83%), bahan bakar (15,38%) dan barang modal (13,08%).

Pada prosentase yang lebih kecil, Indonesia juga ekspor produk makanan (10%), sayuran (6,3%), kayu (3,2%) dan tekstil/pakaian (1.4%).

Nilai ekspor kopi, teh dan rempah-rempah ke Filipina, misalnya, naik dua kali lipat menjadi 7.334 dolar AS di 2019, dibanding 3.217 dolar AS di 2018. Sedangkan nilai ekspor kokoa turun menjadi 26.919 dolar AS di 2019 dari 27.577 dolar AS.

Sementara itu, menurut data Kementerian Perdagangan, makanan olahan (processed food) dan minuman adalah salah satu produk ekspor utama Indonesia. Ekspor produk ini diprediksi akan terus tumbuh dari tahun ke tahun dengan kenaikan mencapai 5.5%.


Nilai ekspor produk makanan olahan mencapai 5,34 milyar dolar AS pada 2016. Ekspor produk olahan Indonesia terbesar ke Filipina (12.78%), Amerika Serikat (12.69%), Malaysia (9.92%), China (7.14%) dan Singapura (6.04%).