Tak hanya di Tuban, Jawa Timur, kisah warga desa yang menjadi miliarder dadakan juga terjadi di Desa Kawungsari, Kuningan Jawa Barat. Mereka kaya mendadak setelah mendapat ganti untung proyek pembebasan lahan untuk mega proyek waduk Kuningan.

Proyek Waduk Kuningan terbentang di enam desa yang ada di Kecamatan Cibeureum. Sejumlah warga yang ada di enam desa itu pun harus pindah karena tanahnya digunakan untuk pembangunan proyek ini.

“Ada pencairan sekitar 179 bidang tanah yang dibebaskan dengan nilai rupiah mencapai sekitar Rp 134 miliar,” kata Kepala Desa Kawungsari Kusto seperti dinukil Kompas.com.

Baca juga: 560 warga Desa Sumurgeneng menjadi miliarder baru

Di Desa Kawungsari sendiri ada 362 warga yang tanah dan bangunan terkena dampak pembangunan bedungan itu. Total tanah dan bangunannya ada 386 bidang. Dari 386 bidang tanah dan bangunan itu, 207 bidang tanah telah diberi ganti untung jauh hari dengan total nilai ganti untung mencapai Rp 149 miliar.

Sedangkan sisanya, 179 bidang tanah itu milik warga baru cair beberapa waktu lalu.

Nurmadin (50), salah satu warga mengaku mendapat uang ganti untung hasil menjual rumah dan sawahnya senilai Rp 400 juta.

"Dapat Rp 300 juta untuk rumah dan Rp 100 juta untuk sawah. Saya kemarin beli motor cash Rp 24,5 juta. Sisanya saya tabungin," ujar Nurmadin seperti dilansir detik.com.

Ganti untung yang diberikan kepada warga jumlahnya berbeda-beda, tergantung dari bidang tanah dan bangunan yang dimiliki. "Yang terkecil itu warga nerima uang ganti Rp 150 juta. Yang paling banyak ada hampir mencapai Rp 1,6 miliar. Kalau saya sendiri dapat Rp 700 juta, tapi saya termasuk yang belum cair uangnya," ujar Kusto.

Pembangunan waduk sendiri telah berlangsung sejak 2013 dan kini pembangunannya telah selesai dilakukan. Ditargetkan sebelum Juli 2021 proses ganti untung kepada warga selesai dilakukan.

Warga sebenarnya sudah menunggu lama pencairan ganti untung atas tanah mereka itu namun baru terealisir beberapa waktu lalu. Karena itu, begitu uang ganti untung itu cair, warga pun langsung membelanjakan untuk membeli barang konsumtif yakni membeli kendaraan.

Baca juga: Sekapuk, dulu miskin sekarang jadi desa miliarder

Kata Kusto, setelah warga menerima ganti untung itu, hampir setiap hari ada saja kendaraan baru yang datang ke desanya. Dalam sehari ada 30 unit motor dengan berbeda merek itu dibeli warga. "Mayoritas motor gede matic seperti Nmax atau PCX yang menjadi idola warga kami," ujar dia.

Kusto menyebut, total motor yang dibeli warganya mencapai 300 unit. Sedangkan mobil baru dan bekas yang dibeli ada 30an unit.

Selain untuk membeli kendaraan, mereka juga membeli rumah dan tanah.